Bahasa Inggris Dihapus, Lembaga Pendidikan Senang, Kok
Bisa?
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) berencana meniadakan mata pelajaran Bahasa Inggris
untuk kurikulum Sekolah Dasar (SD). Rencana itu disambut baik oleh para
pengelola dan staf di tempat kursus Bahasa Inggris, meski mereka mengatakan
langkah itu tidaklah tepat.
Salah satunya adalah Lembaga
Pendidikan Indonesia Amerika (LPIA) di Jalan Margonda, Depok. Menurut
kordinator Bahasa Inggris LPIA, Putu Widiasastra, penghapusan pelajaran Bahasa
Inggris memang tidak tepat karena anak-anak perlu mempelajari bahasa dunia ini
sejak dini. Selain itu, Bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan bagi siswa,
bahkan untuk siswa sekolah dasar.
"Sebagai
pengajar, penghapusan Bahasa Inggris untuk siswa SD itu disayangkan,"
ungkapnya.
Meskipun
begitu, ia juga mengaku menyambut dengan baik apabila wacana tersebut memang
dilaksanakan. Pasalnya, jika wacana tersebut memang dilaksanakan, maka akan
mempengaruhi jumlah siswa yang mendaftar di lembaga tersebut yang dinilai akan
semakin meningkat.
Sastra
mengakui, dihapusnya mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar akan
berdampak pada banyaknya siswa yang akan belajar di lembaga pendidikan Bahasa
Inggris. Menuru dia itu dikarenakan orang tua siswa sudah menyadari pentingnya
pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini.
"Kalau
sebagai pengajar di lembaga, saya menyambut dengan baik karena siswa yang
mendaftar kemungkinan lebih banyak meskipun jumlahnya tidak akan drastis,"
kata Sastra.
Ia menambahkan
pentingnya Bahasa Inggris bagi siswa untuk dipelajari karena pelajaran ini
merupakan bahasa internasional. "Jika ingin maju, Bahasa Inggris penting
untuk dipelajari," tambahnya.
Sementara
itu, Ryan, siswa kelas lima sekolah dasar, mengaku meskipun ia sudah
mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya, ia juga masih mengikuti
kursus privat Bahasa Inggris. "Saya juga belajar les bahasa Inggris di
rumah, disuruh mama," katanya.
Kurikulum 2013 Fokus kepada 4
Pelajaran
TEMPO.CO, Jakarta
- Kurikulum baru untuk 2013 yang saat ini sedang digodok di Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan akan difokuskan untuk empat mata pelajaran terlebih
dulu. Empat pelajaran yang kurikulumnya akan direvisi adalah Matematika, Bahasa
Indonesia, Pendidikan Agama, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
“Tapi bukan
berarti mata pelajaran lain diabaikan,” kata Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Khairil Anwar Notodiputro
kepada Tempo, Selasa, 25 September 2012.
Keempat mata
pelajaran tersebut dipilih karena dianggap bisa mempengaruhi rasa nasionalisme
dan meningkatkan karakter generasi muda. Saat ini, pendidikan di Indonesia
dirasa masih terlalu liberal.
Menurut
Khairil, kurikulum ini akan mengalami banyak perubahan dibanding kurikulum
sebelumnya yang dibuat tahun 2006. Selain isi pengajaran, juga diubah cara
penyampaian, termasuk penyiapan dan penyediaan buku ajarnya. Kelak, empat mata
pelajaran itu harus menggunakan buku yang distandarkan oleh kementerian.
Sedangkan mata pelajaran lain boleh menggunakan buku pedoman berbeda, namun
harus di bawah pengawasan kementerian.
Khairil
berharap tidak ada buku-buku pelajaran yang mempunyai konten terlalu liberal.
"Semoga tidak lagi menemukan gambar (Miyabi) itu di buku-buku
pelajaran," kata Khairil menanggapi buku pelajaran setingkat SMP yang
memuat gambar artis porno di salah satu halamannya.
Kurikulum
2013 nantinya tidak hanya bersifat kognitif atau hafalan saja. Tetapi juga
mementingkan sikap dan keterampilan para siswa. "Misalnya, bagaimana
anak-anak ini mempunyai nilai Pancasila, tidak hanya hafalan sila pertama dan
seterusnya," kata Khairil. Metode inilah yang saat ini sedang dicari dan
diterapkan di kurikulum baru.
Sedangkan
untuk mata pelajaran lain, kata Khairil, ada kemungkinan beberapa akan digabung
jika memungkinkan untuk membentuk kurikulum yang lebih sederhana dan efektif.
"Diajarkan 5 jam lebih bagus asal efektif daripada 10 jam tapi banyak yang
tidak bermanfaat," kata Khairil.
Saat ini,
kurikulum baru itu masih dalam tahap pematangan draf. Pematangan tak hanya
melibatkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, tetapi juga merekrut
anggota tim evaluasi dari perguruan tinggi dan tim independen yang berkonsentrasi
di beberapa bidang mata pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar