MENU

Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

Mendikbud: Pendidikan Bencana Sudah Masuk Kurikulum 2013

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim mengatakan pendidikan mengenai mitigasi bencana sudah ada dalam kurikulum 2013.

"Pendidikan bencana sudah ada di kurikulum 2013. Ada di setiap pelajaran," ujar Wamendikbud di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan pendidikan mengenai subtansinya ada di setiap pelajaran, misalnya, pendidikan mengenai lingkungan."Pendidikan mitigasi bencana juga ada di program sekolah aman."

Musliar menambahkan pendidikan bencana sangat penting karena Indonesia secara geologi merupakan negara bersabuk vulkanik yang dikelilingi cincin api yang melingkari bagian selatan dan timur.

Selain itu, Indonesia juga terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yakni lempeng Australia, Eurasia dan Pasifik. Tumbukan yang terjadi pada lempeng-lempeng itu menempatkan Indonesia sebagai negeri yang rawan bencana.

Program sekolah aman dicetus pada 2012. Program percentuhan dilakukan di lima provinsi, yaitu Sumatera Barat (Padang dan Padang Pariaman), Jawa Barat (Kota Bandung dan Kabupaten Bandung), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Sikka), serta Jawa Tengah (Rembang dan Grobogan).

Sebelumnya juga, ditandatangani Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Pedoman tersebut diluncurkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2012.

Sabtu, 11 Januari 2014

Pendidikan di Indonesia alami pergeseran

Sindonews.com - Pendidikan di Indonesia harus kembali ke tujuan awalnya. Sebab saat ini pendidikan sudah mengalami pergeseran sebatas pada pembelajaran belaka.


Pendidikan seharusnya tidak hanya sebagai transfer ilmu dan pengetahuan namun juga ada teladan dan pendidikan sikap didalamnya," kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Baskara Aji disela-sela pameran, pentas seni pelajar, dan mahasiswa dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kantor Disdikpora DIY, Rabu (1/5/2013).

Pergeseran tujuan pendidikan itu, menurut Aji, akan membuat layanan pendidikan menjadi tak maksimal. Peserta didik hanya akan mendapatkan ilmu tanpa ada nilai-nilai keteladanan budi pekerti dan akhlak dari para guru.

Dengan diterapkannya Kurikulum 2013, diharapkan pendidikan bisa kembali ke tujuan awalnya. Dalam kurikulum tersebut, beban guru dikurangi sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bertatap muka dan memberikan pengamalan keteladaan nila-nilai luhur pada peserta didik.

"Dalam implementasi kurikulum baru, silabus dan buku teks sudah disiapkan pemerintahsehingga guru akan mempunyai lebih banyak waktu bersama peserta didiknya, tidak hanya di kelas," ungkapnya.

sumber : http://nasional.sindonews.com/read/2013/05/02/15/744138/pendidikan-di-indonesia-alami-pergeseran

Kamis, 26 Desember 2013

Gelar demo, ratusan siswa SD di Solo dukung penghapusan UN



Merdeka.com - Ratusan siswa SD Islam Al Fattah, Solo, Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi di depan Gelora Manahan, Senin (9/12). Mereka mendukung dihapuskannya Ujian Nasional (UN) dan kebijakan tidak tinggal kelas.

Sebagai gantinya mereka menuntut pemerintah membebaskan sekolah untuk mengadakan Ujian Sekolah (US). "Saya senang tidak ada UN lagi, tidak takut lagi kalau harus tidak naik kelas. Kan malu kalau tak naik kelas," ujar Fahma, siswa kelas 5.

Senada, Nadiva siswa kelas 6 mengaku senang, UN untuk SD dihapuskan. Dia juga menyambut baik kebijakan tidak tinggal kelas bagi siswa kelas 1 sampai dengan kelas 5.

"Senanglah kalau ujian nasional diganti ujian sekolah, karena yang membuat soal sekolah kami sendiri," ucapnya.

Sementara itu, Kepala SD Islam Al Fattah Surakarta, Warsito Adnan mengatakan pihaknya menduga UN hanya menjadi proyek dan terindikasi sarat korupsi. Sedangkan kebijakan tinggal kelas bagi siswa SD akan berdampak pada psikis dan mental.

"Sekolah sudah sangat siap untuk menyelenggarakan ujian sekolah sendiri. Mulai dari menyiapkan naskah soal sampai mencetaknya. Dana BOS juga cukup digunakan untuk operasional ujian," katanya.

Pantauan merdeka.com para siswa memulai aksinya dengan berjalan kaki dari dalam Stadion Manahan pintu gerbang Gelora Manahan. Di sepanjang perjalanan mereka menggelar poster kreasi masing-masing.

Mengakhiri aksinya, para siswa meluapkan kegembiraan atas penghapusan UN dan tinggal kelas dengan menerbangkan replika pesawat dari kertas.

Mulai tahun depan, tak ada lagi siswa SD tak naik kelas



Merdeka.com - Mulai tahun depan, tidak ada lagi peserta didik sekolah dasar (SD) yang tinggal kelas atau tidak naik kelas. Hal ini seiring dengan penilaian di rapor SD, yang mencakup sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam bentuk deskriptif tidak lagi angka.

"Penilaian di SD tidak ada angka, tetapi narasi. Mereka tidak tinggal kelas. Bagi yang belum memahami pelajaran, meskipun naik kelas akan diberikan remedial," kata Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Ramon Mahondas di Jakarta, Minggu (1/12) seperti dikutip dari situs Sekretariat Kabinet.

Dalam keterangan pers usai pada Rapat Koordinasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Tahun 2014 dan Ujian Nasional 2014, Ramon mengatakan, saat ini telah dilakukan pelatihan untuk guru pendamping yang turun di lapangan. Mereka, kata Ramon, telah dijelaskan baku bentuk rapor, cara menilai dan memberikan angka.

Menurut Ramon, pelatihan guru yang akan dilaksanakan tahun depan mencakup 150 ribu sekolah, lebih besar dibandingkan tahun ini yang hanya enam ribu sekolah.

Sementara itu, Kepala Unit Implementasi Kurikulum Kemdikbud Tjipto Sumadi menyampaikan, penilaian rapor siswa SD menggunakan bahasa positif karena usia anak masih dalam usia emas atau golden age. Hal ini dilakukan untuk memotivasi anak.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Dadang Sudiyarto menambahkan, pada tahun depan tidak ada lagi ujian berstandar nasional untuk SD, tetapi diselenggarakan ujian sekolah/madrasah. "Ujian ini mencakup SD, SDLB, dan Paket," paparnya.

Dia menyebutkan, ujian sekolah/madrasah SD/SDLB/MI/Paket A/Ula dilaksanakan pada 19-21 Mei.

Adapun mata pelajaran yang diujikan yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan IPA untuk SD/MI dan bahasa Indonesia, matematika, IPS, dan PKN untuk SDLB. "Sebanyak 25 persen kisi-kisi soal dari pemerintah pusat, dan 75 persen dari satuan pendidikan berkoordinasi dengan kabupaten/kota," ungkap Dadang.

Untuk SMA/MA/SMALB/SMK termasuk Paket C dan Paket C Kejuruan, menurut Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun Na'im, Ujian Nasional tahun depan akan dilaksanakan pada 14-16 April. Dan untuk SMP/MTs/SMP/SMPLB/Paket B/Usto pelaksanaan Ujian Nasional pada 5-8 Mei. "Nilai kelulusannya tetap 5,5," kata Ainun.

Kurikulum pendidikan 2013 dinilai aneh dan lucu




Merdeka.com - Ada hal ganjil sekaligus menggelikan saat koalisi tolak perubahan kurikulum 2013 membuka kurikulum inti dari Kementerian Pendidikan. Pasalnya ada kesan dipaksakan saat beberapa nilai bermasyarakat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan alam.

"Kami menemukan kompetensi inti mengikat kompetensi dasar sehingga lucu-lucu, dikatakan membiasakan jujur, disiplin dan bertanggung jawab berkaitan dengan fungsi kuadrat. Memiliki ketangguhan diri dan konsisten menghadapi masalah kehidupan sebagai gambaran fungsi trigonometri. Itu pelajaran kelas 1 SMA," kata Retno Listyarti dari Federasi Serikat Guru di ICW, Jakarta (15/2)

Sebagai guru, Retno mengaku merasa kebingungan karena tak ada instruksi khusus. Apalagi sampai saat ini beberapa pedoman pendamping kurikulum belum juga ada.

"Apa ini yang dianggap kurikulum hebat? Tinggal 4 bulan lagi tapi barang enggak ada, tidak d dokumen kurikulum resmi. Tidak ada ketentuan kurikulum, belum ada pedoman bimbingan dan penilaian. Tampak dipaksakan untuk masuk dalam sistem ini. Kami sebagai guru bingung kalau kita mengajarkan model begini," lanjutnya.

Hal senada diungkapkan pemerhati pendidikan Romo Benny Susetyo. Menurutnya, ilmu alam tidak bisa disangkutpautkan seperti itu. Hal ini menunjukkan Kemendikbud memang sengaja memaksakan meski kurikulum 2013 tidak jelas.

"Ini dilakukan tergesa-gesa dan menunjukkan ketidaksiapan. Melebur IPA dan IPS itu memaksakan pluralisme ke dalam ilmu pengetahuan. Matematika tidak bisa dikaitkan dengan keindonesiaan, justru itu menjadi bingung dengan cara seperti ini. Perubahan kurikulum tidak jelas," tegasnya.

Diketahui, Juli nanti pemerintah tengah bersiap menerapkan Kurikulum 2013. Sebagai langkah awal SD kelas 1-4 kemudian akan diperluas dan dilakukan bertahap ke semua jenjang pendidikan.

Salah satu konten kurikulum yang diubah adalah menyisipkan ilmu pengetahuan satu ke ilmu pengetahuan lain. Selain itu untuk tingkatan SD ada pelajaran bersifat tematik integratif sehingga tidak ada lagi pelajaran IPA maupun IPS. Jika SD diperlakukan demikian, lain halnya SMA, mereka tidak lagi dibagi dalam jurusan IPA, IPS maupun bahasa tapi mereka dibebaskan memilih kelas layaknya mahasiswa perguruan tinggi.

Rabu, 25 Desember 2013

Mendikbud: Pelajaran Bahasa Inggris itu pilihan, tidak wajib

Merdeka.com - Pelajaran Bahasa Inggris akan dihapus dari kurikulum pendidikan sekolah dasar (SD). Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), M Nuh, keputusan itu tak perlu dijadikan polemik.

"Sejak dulu Bahasa Inggris tidak wajib, tapi bukan berarti tidak boleh mengajarkan Bahasa Inggris di SD. Boleh," kata M Nuh, di Kampus Unpad Bandung, Kamis (12/12).

Menurut dia, setiap sekolah boleh menentukan apakah Bahasa Inggris akan dimasukan atau tidak sebagai bahan ajaran. Kalau pun dimasukkan dalam ekstrakulikuler itu bukanlah masalah.

"Mata pelajaran Bahasa Inggris ini sifatnya pilihan yang bisa dikembangkan oleh sekolah pada peserta didik. Jadi intinya enggak apa-apa," ujarnya.

Dalam Kurikulum 2013, ada tiga mata pelajaran yang akan dihapuskan dari kurikulum reguler untuk siswa SD. Ketiganya adalah Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Teknologi Informasi dan Komputer.

Pelajaran itu akan menjadi mata pelajaran ekstrakurikuler sehingga tidak akan memiliki ujian.

Siswa SD di Lebak Banten belajar di ruangan mirip kandang ayam

Merdeka.com - Kondisi SDN 1 Filial Girijagabaya yang berada di Kampung Sinarjaya, Desa Girijagabaya, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten kondisinya sangat memprihatinkan. Meski bentuk bangunan mirip kandang ayam, namun 27 siswa yang terdaftar di sekolah tersebut tetap giat melakukan aktivitas belajarnya.

Pantauan merdeka.com, Selasa (26/11), satu bangunan sekolah itu diisi oleh kelas 1, 2, 3, dan kelas 4. Dindingnya terbuat dari bilik bambu dan atap masih menggunakan daun rumbia, sementara lantai masih beralaskan tanah.

Kondisi tersebut akan semakin parah saat musim hujan karena banyak air yang masuk, baik dari atap maupun dari lantai, sehingga mengakibatkan aktivitas belajar berhenti.

Sekolah tersebut merupakan kelas bayangan dari SDN 1 Girijagabaya yang dibangun dengan swadaya masyarakat sekitar. Pembangunan SD dengan bahan seadanya tersebut dilakukan pada 4 tahun lalu akibat jauhnya sekolah utama SDN 1 Girijagabaya dari permukiman warga kampung Sinarjaya.

Arum, salah seorang murid kelas 2 di sekolah tersebut mengaku dirinya tidak dapat berkonsentrasi saat mengikuti aktivitas belajar akibat suasana kelas yang bising dan bocor bila hujan turun. "Inginnya gedung sekolahnya bagus, jadi kalo hujan enggak bocor," ujar Arum.

Salah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut, Norman mengakui kesulitan saat mengajar akibat kelas 1,2,3 dan 4 berada dalam satu ruangan yang hanya disekat dengan kayu. "Kesulitannya kan 4 kelas dalam satu ruangan, kalau lagi ngejelasin suka pada berisik. Ngajar kelas 1, kelas 4-nya berisik. Yah gitu lah, dinikmati saja namanya juga kewajiban," kata Norman.

Norman juga menceritakan aktivitas belajar terpaksa berhenti bila hujan turun karena kelas tersebut mengalami bocor, dan juga air masuk dari bawah sehingga menyebabkan lantai kelas yang masih beralaskan tanah becek dan licin.

"Ya bocor kalau hujan, buku dibawa semua ke rumah, belajar juga terpaksa berhenti," tuturnya.


Pelajar Indonesia terburuk soal matematika dan ilmu pengetahuan



Merdeka.com - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis hasil survei yang menggunakan metode Programme for International Student Assessment (PISA). Dari pelajar di 65 negara/kota yang disurvei, pelajar Indonesia berada di peringkat kedua terbawah dalam pelajaran matematika dan sains.

Survei yang baru dirilis OECD, lembaga yang bermarkas di Paris itu, merupakan survei yang dilakukan pada tahun 2012 dengan melibatkan 510.000 siswa usia 15 tahun. Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner pilihan berganda dengan sistem komputer.

Untuk matematika, skor rata-rata 65 negara/kota yang disurvei ditetapkan OECD sebesar 494. Sementara skor pelajar Indonesia rata-rata hanya mencapai 375 dan unggul tipis atas Peru yang berada di peringkat buncit dengan skor 368.

Bandingkan dengan skor rata-rata yang diperoleh pelajar Thailand yang berada di peringkat 50 yang mencapai 427 dan Malaysia di peringkat 52 dengan angka 421.

Dalam kategori ini, peringkat 5 besar diperoleh pelajar dari Shanghai (China), Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan.

Kemudian untuk skor PISA untuk kategori sains, pelajar Indonesia yang disurvei juga berada di peringkat 64. Dengan skor rata-rata yang ditetapkan OECD sebesar 501, pelajar Indonesia cuma mendapat skor 382.

Kementerian Pendidikan Nasional mengakui survei PISA ini. Bahkan Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 2000. Pada tahun 2000 sebanyak 41 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 menurun menjadi 40 negara dan pada tahun 2006 melonjak menjadi 57 negara hingga kemudian di tahun 2012 menjadi 65 negara/kota peserta.

Tujuan PISA adalah untuk mengukur prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun di negara-negara peserta. Di tahun 2012, survei menambahkan kategori problem solving dan financial literacy.

Seperti ditulis dalam situs resmi Kemendiknas, manfaat survei PISA bagi Indonesia adalah untuk mengetahui posisi prestasi literasi siswa Indonesia bila dibandingkan dengan prestasi literasi siswa di negara lain dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, hasil studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan.
Untuk kategori matematika, hal-hal yang diukur adalah: Mengidentifikasikan dan memahami serta menggunakan dasar-dasar matematika yang diperlukan seseorang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Sedangkan untuk sains: Menggunakan pengetahuan dan mengidentifikasi masalah untuk memahami fakta-fakta dan membuat keputusan tentang alam serta perubahan yang terjadi pada lingkungan.

Kurikulum Pendidikan 2013, Apa yang Baru? Lebih analitis, tanpa pembagian IPA-IPS. Jam belajar siswa bertambah.



VIVAnews – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai perlu dikembangkan kurikulum berbasis penguatan penalaran, bukan hafalan semata. Kurikulum pendidikan di Indonesia dipandang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Pola pembelajaran harus diarahkan untuk mendorong murid mencari tahu dan mengobservasi, bukan diberi tahu.
Kemendikbud pun menyusun perubahan kurikulum untuk tahun 2013. Kurikulum baru ini diuji publik selama tiga minggu mulai Senin, 3 Desember 2012. “Zaman sudah berubah. Kompetensi diperlukan untuk pengembangan intelektual siswa juga harus berubah, karena tantangan yang mereka hadapi di masa depan tidak akan sama dengan sekarang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh.
Alasan perubahan kurikulium itu juga merujuk pada hasil sejumlah survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Misalkan pada 2007, survei ‘Trends in International Math and Science’ Global Institute mencatat hanya 5 persen siswa Indonesia mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sedangkan siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen.

Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal-soal kategori rendah yang hanya memerlukan hafalan, sementara siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Ditambah lagi dengan catatan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara peserta PISA. Diadakan tiga tahun sekali sejak 2000, PISA menyertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif, dan keahlian siswa dalam membaca, matematika, dan sains.
PISA 2009 memperlihatkan, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa negara lain yang menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6. Survei Global Institute 2007 dan hasil PISA 2009 dalam dirangkum dalam satu kesimpulan: prestasi siswa Indonesia rendah dibanding negara lain.
IPA-IPS Hilang

Rancangan Kurikulum 2013 mengurangi mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Mata pelajaran SD yang sebelumnya ada 10 dipadatkan menjadi 6, sedangkan mata pelajaran SMP yang sebelumnya berjumlah 12 diringkas menjadi 10.

Enam mata pelajaran yang diajarkan di SD itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Kesenian. Sementara Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang sebelumnya ada di daftar mata pelajaran, akan diajarkan secara terpadu dengan pelajaran-pelajaran lain sesuai tema yang sedang dibahas.

“Misalnya di IPA ada tema soal air, maka tema air itu bisa jadi muatan di pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan PPKN,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, kepada VIVAnews, Minggu 2 Desember 2012. Dengan demikian, IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain berdasarkan tema.

Ibnu menjelaskan, khusus mata pelajaran IPA dan IPS ini, Menteri Nuh memberikan tiga alternatif pengintegrasian. Pertama, nama pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, namun muatannya muncul di pelajaran-pelajaran lain. Kedua, IPA dan IPS dimunculkan mulai kelas 4 SD sampai 6 SD. Ketiga, IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai pelajaran tersendiri untuk kelas 5 dan 6 SD.

“Intinya, yang dihapuskan adalah nama pelajarannya –IPA dan IPS. Namun substansi pelajaran IPA dan IPS tidak ada satu pun yang dihilangkan,” ujar Ibnu. IPA dan IPS bukan satu-satunya mata pelajaran yang akan diubah dalam kurikulum baru. Bahasa Inggris pun tidak akan masuk ke dalam mata pelajaran SD, tapi tetap diajarkan sebagai ekstra kurikuler.

Sementara itu, 10 mata pelajaran yang akan diajarkan di tingkat SMP adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya dan Muatan Lokal, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Prakarya.

Meski mata pelajaran berkurang, namun jumlah jam pelajaran justru bertambah. Jam belajar siswa SD bertambah rata-rata empat jam per minggu. Untuk kelas 1 SD, jam belajar bertambah dari 26 menjadi 30 jam, kelas 2 SD dari 27 menjadi 32 jam, kelas 3 SD dari 28 menjadi 34 jam, dan kelas 4, 5, 6 SD dari 32 menjadi 36 jam.

Jam pelajaran siswa SMP pun bertambah enam jam per minggu, dan siswa SMA bertambah dua jam per minggu. Satu jam pelajaran adalah 35 menit, bukan 60 menit. Penambahan jam belajar ini dilakukan karena jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat dibanding negara-negara lain.

Model pembelajaran di kurikulum baru ini mendorong murid untuk mencari tahu dan melakukan observasi. Siswa diarahkan untuk merumuskan masalah (bertanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Murid dilatih untuk berpikir analitis (mengambil keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin). Siswa juga diajari untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

“Kurikulum baru ini didesain menyiapkan generasi Indonesia yang lebih optimis, di mana terdapat keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan,”  kata Ibnu.

Kualitas Guru

Perubahan kurikulum ini melalui empat tahap. Pertama, Kemendikbud mengembangkan kurikulum dengan melibatkan para pakar pendidikan, kebudayaan, sampai ilmuwan. Kedua, presentasi di depan Wakil Presiden RI Boediono pada 13 November 2012. Ketiga, uji publik selama tiga minggu untuk menghimpun berbagai masukan masyarakat. Keempat, memformulasi ulang masukan masyarakat.

Para pakar yang telah dimintai masukan antara lain Rektor Universitas Paramadina dan penggagas gerakan "Indonesia Mengajar" Anies Baswedan, fisikawan dan tokoh pendidikan Yohanes Surya, sejarawan Taufik Abdullah, serta sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad.

Anies Baswedan meminta pemerintah juga memperhatikan guru, di samping menyusun kurikulum pendidikan baru untuk murid. “Kurikulum baru ini mensyaratkan kompetensi guru yang lebih baik karena beban ada di guru. Menurut kurikulum baru, guru harus mengajar dengan cara berbeda,” kata Anies.

Oleh sebab itu Anies menekankan pada peningkatan kualitas guru ketimbang perubahan kurikulum. “Ini karena ujung tombak ada pada guru. Apapun muatan kurikulum yang diberikan pada murid, yang akan menyampaikan materi di kelas adalah guru. Jadi mengubah kurikulum tanpa meningkatkan kualitas guru, tak ada artinya,” kata dia.

Anies menyatakan, seorang murid menyukai pelajaran bukan karena bukunya, tapi karena gurunya. Ia mencontohkan, pelajaran matematika jadi menyenangkan jika gurunya menyenangkan. “Meski bukunya sama, namun kecintaan murid pada suatu pelajaran berbeda-beda. Jadi fokus pemerintah jangan hanya di hulu (kurikulum), tapi juga di hilir (guru),” ujarnya.

Wakil Presiden Boediono sendiri, menurut Anies, sudah memberikan arahan pada Kemendikbud untuk memperhatikan faktor guru. “Arahan Pak Boediono sudah betul. Harus ada juga tim khusus untuk guru supaya seimbang,” kata dia.(np)

Kamis, 19 Desember 2013

BERITA PENDIDIKAN



Bahasa Inggris Dihapus, Lembaga Pendidikan Senang, Kok Bisa?
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana meniadakan mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kurikulum Sekolah Dasar (SD). Rencana itu  disambut baik oleh para pengelola dan staf di tempat kursus Bahasa Inggris, meski mereka mengatakan langkah itu tidaklah tepat. 
Salah satunya adalah Lembaga Pendidikan Indonesia Amerika (LPIA) di Jalan Margonda, Depok. Menurut kordinator Bahasa Inggris LPIA, Putu Widiasastra, penghapusan pelajaran Bahasa Inggris memang tidak tepat karena anak-anak perlu mempelajari bahasa dunia ini sejak dini. Selain itu, Bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan bagi siswa, bahkan untuk siswa sekolah dasar.
"Sebagai pengajar, penghapusan Bahasa Inggris untuk siswa SD itu disayangkan," ungkapnya.
Meskipun begitu, ia juga mengaku menyambut dengan baik apabila wacana tersebut memang dilaksanakan. Pasalnya, jika wacana tersebut memang dilaksanakan, maka akan mempengaruhi jumlah siswa yang mendaftar di lembaga tersebut yang dinilai akan semakin meningkat.
Sastra mengakui, dihapusnya mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar akan berdampak pada banyaknya siswa yang akan belajar di lembaga pendidikan Bahasa Inggris. Menuru dia itu dikarenakan orang tua siswa sudah menyadari pentingnya pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini.
"Kalau sebagai pengajar di lembaga, saya menyambut dengan baik karena siswa yang mendaftar kemungkinan lebih banyak meskipun jumlahnya tidak akan drastis," kata Sastra.

Ia menambahkan pentingnya Bahasa Inggris bagi siswa untuk dipelajari karena pelajaran ini merupakan bahasa internasional. "Jika ingin maju, Bahasa Inggris penting untuk dipelajari," tambahnya. 

Sementara itu, Ryan, siswa kelas lima sekolah dasar, mengaku meskipun ia sudah mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya, ia juga masih mengikuti kursus privat Bahasa Inggris. "Saya juga belajar les bahasa Inggris di rumah, disuruh mama," katanya.




Kurikulum 2013 Fokus kepada 4 Pelajaran
 TEMPO.CO, Jakarta - Kurikulum baru untuk 2013 yang saat ini sedang digodok di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan difokuskan untuk empat mata pelajaran terlebih dulu. Empat pelajaran yang kurikulumnya akan direvisi adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

“Tapi bukan berarti mata pelajaran lain diabaikan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Khairil Anwar Notodiputro kepada Tempo, Selasa, 25 September 2012.

Keempat mata pelajaran tersebut dipilih karena dianggap bisa mempengaruhi rasa nasionalisme dan meningkatkan karakter generasi muda. Saat ini, pendidikan di Indonesia dirasa masih terlalu liberal.

Menurut Khairil, kurikulum ini akan mengalami banyak perubahan dibanding kurikulum sebelumnya yang dibuat tahun 2006. Selain isi pengajaran, juga diubah cara penyampaian, termasuk penyiapan dan penyediaan buku ajarnya. Kelak, empat mata pelajaran itu harus menggunakan buku yang distandarkan oleh kementerian. Sedangkan mata pelajaran lain boleh menggunakan buku pedoman berbeda, namun harus di bawah pengawasan kementerian.

Khairil berharap tidak ada buku-buku pelajaran yang mempunyai konten terlalu liberal. "Semoga tidak lagi menemukan gambar (Miyabi) itu di buku-buku pelajaran," kata Khairil menanggapi buku pelajaran setingkat SMP yang memuat gambar artis porno di salah satu halamannya.

Kurikulum 2013 nantinya tidak hanya bersifat kognitif atau hafalan saja. Tetapi juga mementingkan sikap dan keterampilan para siswa. "Misalnya, bagaimana anak-anak ini mempunyai nilai Pancasila, tidak hanya hafalan sila pertama dan seterusnya," kata Khairil. Metode inilah yang saat ini sedang dicari dan diterapkan di kurikulum baru.

Sedangkan untuk mata pelajaran lain, kata Khairil, ada kemungkinan beberapa akan digabung jika memungkinkan untuk membentuk kurikulum yang lebih sederhana dan efektif. "Diajarkan 5 jam lebih bagus asal efektif daripada 10 jam tapi banyak yang tidak bermanfaat," kata Khairil.

Saat ini, kurikulum baru itu masih dalam tahap pematangan draf. Pematangan tak hanya melibatkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, tetapi juga merekrut anggota tim evaluasi dari perguruan tinggi dan tim independen yang berkonsentrasi di beberapa bidang mata pelajaran.